
Refleksi Hari Pendidikan Nasional dalam Perspektif Ulama’: Relevansinya bagi Generasi Z di Era Digital
Peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak lagi cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Bagi generasi Z generasi yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital momentum ini justru menjadi titik kritis untuk menata ulang arah pendidikan: apakah masih berorientasi pada pembentukan manusia, atau telah bergeser menjadi sekadar produksi kompetensi?
Generasi Z hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan tanpa batas. Informasi tersedia dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Namun di sinilah letak paradoksnya: melimpahnya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Dalam perspektif ulama , kondisi ini disebut sebagai kasratul ma’lumat wa qillat al-fahm , banyaknya informasi tetapi minimnya pemahaman.
Ajaran KH Hasyim Asy’ari tentang pentingnya adab sebelum ilmu menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Generasi Z tidak kekurangan akses ilmu, tetapi seringkali kekurangan filter nilai. Tanpa adab, media sosial bisa menjadi ruang riya’, debat tanpa etika, bahkan penyebaran hoaks keagamaan. Di sinilah pendidikan berbasis ta’dib menemukan urgensinya: membentuk karakter digital yang beretika, bukan sekadar cerdas secara teknis.
Lebih jauh, tantangan utama generasi Z bukan hanya how to know, tetapi how to be. Mereka membutuhkan orientasi hidup di tengah banjir pilihan dan distraksi. Ulama menekankan bahwa pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki maqashid (tujuan hidup), bukan sekadar skill set. Tanpa arah, kecerdasan justru bisa menjadi alat yang menyesatkan.
Dalam konteks ini, konsep talaqqi , belajar langsung kepada guru tidak kehilangan relevansinya, meskipun dunia telah terdigitalisasi. Justru di era ini, kehadiran guru yang memiliki sanad keilmuan menjadi penyeimbang dari arus informasi liar. Generasi Z perlu diajarkan untuk tidak hanya “mengonsumsi konten”, tetapi juga “memverifikasi kebenaran”.
Prinsip yang sering dikutip dalam tradisi ulama,
المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح
Menjaga nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik
menjadi kunci penting. Generasi Z tidak harus menolak modernitas, tetapi juga tidak boleh kehilangan akar tradisi. Teknologi harus menjadi alat dakwah, edukasi, dan pemberdayaan, bukan sekadar hiburan tanpa arah.
Relevansi lainnya terletak pada redefinisi makna kesuksesan. Dalam budaya digital, kesuksesan sering diukur dari popularitas, jumlah pengikut, atau viralitas. Padahal dalam perspektif ulama, kesuksesan adalah naf’u lil ghair seberapa besar manfaat bagi orang lain. Pendidikan harus menggeser orientasi generasi Z dari “ingin terlihat” menjadi “ingin bermanfaat”.
Di titik ini, warisan pemikiran Ki Hajar Dewantara kembali menemukan relevansinya. Konsep “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” dapat diterjemahkan dalam konteks digital: menjadi teladan di ruang publik digital, membangun semangat kolaborasi, dan mendorong kebaikan dari belakang tanpa harus selalu tampil di depan.
Akhirnya, refleksi Hari Pendidikan Nasional bagi generasi Z adalah panggilan untuk menyeimbangkan antara kecerdasan digital dan kedewasaan spiritual. Sebab, tantangan terbesar mereka bukan pada keterbatasan akses, tetapi pada kemampuan memilah makna. Pendidikan, dalam perspektif ulama’, harus kembali menjadi jalan pembentukan manusia yang utuh yang mampu hidup di dunia digital tanpa kehilangan arah hidupnya.
Jika tidak, kita berisiko melahirkan generasi yang “terhubung secara teknologi, tetapi terputus secara makna.”