
Jamiyah Darul Muslimah
Sudah menjadi tradisi keagamaan yang tumbuh bersama perkembangan Pondok Pesantren Darut Ta’lim Surabaya. Rutinan yang dilaksanakan setiap Jum’at kedua ini lahir dari keinginan para ibu jamaah dan ustadzah untuk mempunyai wadah berkumpul, berdoa, dan saling menguatkan di tengah kesibukan keluarga dan aktivitas harian. 


Hingga hari ini, suasana rutinannya tetap hangat dan penuh kekeluargaan, persis seperti awal berdirinya. Setiap pertemuan biasanya dimulai dengan suara lembut pembukaan, lalu dilanjutkan dengan: Pembacaan Yasin dan Tahlil
Bagian ini menjadi ruh dari kegiatan. Para jamaah membaca dengan khusyuk, menghadiahkan doa untuk para pendiri pesantren, masyayikh, guru-guru, serta orang tua yang sudah mendahului.
Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan dan rasa syukur atas perjuangan para pendahulu dalam membangun Darut Ta’lim sejak awal berdirinya. Shalawat dan Ratiban Shalawat serta ratib dibacakan bersama, dipimpin oleh ustadzah atau pengurus jamiyah. Selain menjadi amalan, bagian ini menciptakan suasana teduh yang seringkali membuat para jamaah merasa lebih tenang di tengah kesibukan hidup.
Setelah doa penutup, jamaah saling bertegur sapa, bercengkerama, dan melanjutkan kebiasaan lama: saling mendukung dan menguatkan satu sama lain.
Kadang ada jamuan sederhana, kadang hanya air putih—tetapi suasananya tetap hangat dan penuh keberkahan.
Makna dan Peran Jamiyah
Lebih dari sekadar acara bulanan, Jamiyah Darul Muslimah menjadi bagian dari sejarah hidup Pondok Pesantren Darut Ta’lim. Dari masa ke masa, kegiatan ini menjaga:
-
keterikatan antara ibu jamaah dan pesantren,
-
tradisi doa dan dzikir yang sudah diwariskan oleh para masyayikh,
-
kekompakan keluarga besar pesantren,
-
serta ruh kebersamaan yang menjadi ciri khas Darut Ta’lim.
Jamiyah inilah yang mempertemukan banyak hati: mulai dari para ibu jamaah, wali santri, hingga masyarakat sekitar yang ingin dekat dengan kegiatan keagamaan. Setiap Jum’at kedua, halaman pesantren kembali dipenuhi suara doa, tahlil, dan shalawat—sebagai bukti bahwa Darut Ta’lim bukan hanya tempat belajar, tetapi juga rumah bagi jamaah dalam merawat hati dan sejarah.